Profesor LIPI: Pencemaran Air Bisa Dideteksi Cepat Secara Online

Penulis : Betahita.id

Lingkungan

Jumat, 11 September 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Peneliti Pusat Elektronika dan Telekomunikasi LIPI Goib Wiranto mengatakan, untuk mengatasi persoalan pencemaran air, model pemantauan pencemaran secara online dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (Early Warning System).

Baca juga: Soal Kematian 5 Penyu Dekat PLTU, Gubernur Bengkulu: Jangan Sampai Ada Pencemaran

Goib mengatakan, dalam sistem pemantauan pencemaran secara daring atau online, sensor memegang peranan utama sebagai tempat terjadinya interaksi langsung dengan bahan pencemar yang akan dideteksi. Sensor ini diharapkan dapat memberikan data mengenai bahan pencemar sehingga dapat segera ditangani sebelum dampak pencemaran semakin meluas. Pemantauan pencemaran secara online juga memiliki banyak keunggulan dibanding pemantauan secara konvensional.

“Data hasil pengukuran dari sensor harus dapat digunakan oleh pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan terkait mitigasi bencana pencemaran. Di lain pihak, masyarakat juga harus diberikan akses atas informasi pencemaran yang terkait dengan wilayah kehidupannya,” kata Goib dalam orasi pengukuhannya sebagai Profesor Riset LIPI bidang Elektronika, di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2020.

Di antara berbagai teknologi sensor pencemaran air di seluruh dunia, teknologi solid state mempunyai keunggulan tersendiri yaitu bentuknya yang praktis, cara kerjanya sederhana, dan dapat dibuat untuk mendeteksi beberapa parameter sekaligus. Goib mengatakan, penguasaan metode rancang bangun sensor tetap dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan dan sekaligus meningkatakan kemandirian dalam bidang  teknologi sensor untuk pemantauan online.

“Teknologi mikroelektronika mempunyai peranan penting dalam mengatasi persoalan lingkungan melalui sensor-sensor solid state yang diimplementasikan dalam sistem pemantauan pencemaran secara online, oleh karena itu penelitian dan pengembangan sensor lingkungan yang berbasis pada teknologi Thin-FilmThick-Film, dan teknologi Micromachining/MEMs harus terus dilakukan di tengah banyaknya impor di pasar dalam negeri,” kata Goib.

Goib mengatakan, dalam situasi keterbatasan infrastruktur fabrikasi sensor di tanah air saat ini, maka teknik-teknik yang bersifat tarif rendah (low-cost) harus menjadi pilihan utama dalam hal seperti sol gel untuk sintesa nanomaterial, teknologi thick-film untuk sensor kualitas air, dan teknologi thin-film serta MEMs untuk sensor kualitas udara.

“Selain itu teknologi micromachining/MEMs berbahan silikon masih berpotensi besar di masa mendatang, untuk itu perlu penguasaan teknologi pengolahan bahan baku silikon agar alat yang dihasilkan memiliki nilai tambah secara ekonomi,”  katanya.

Busa deterjen akibat limbah rumah tangga memenuhi Kanal Banjir Timur atau biasa disebut BKT, Minggu, 28 Juni 2020. (Teras.id/ANTARA/Andi Firdaus)