Kisah CLBK Gajah Sow dan Jahn di Perlindungan

Penulis : Betahita.id

Biodiversitas

Sabtu, 12 September 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Ada kisah CLBK alias cinta lama bersemi kembali di dunia gajah. Adalah Sow, seekor gajah  jantan berusia 55 tahun yang dipaksa menyeret kayu gelondongan atau mengangkut turis di selatan Thailand. Satwa malang ini juga terancam kelaparan dan tidak bisa lagi mengunyah makanan, setelah gigi-giginya keropos.

Sow dipekerjakan di industri pariwisata Thailand selama lebih dari 20 tahun, yang awalnya dimanfaatkan sebagai gajah pengangkut kayu. Sebelum dipindahkan ke tempat perlindungannya saat ini di Thailand selatan, dia dirantai di pinggir jalan ketika tidak sedang membawa turis.

Sow digambarkan sebagai sosok gajah yang ramah, setelah dipindahkan ke tempat perlindungan Following Giants pada 2019, setelah bertahun-tahun dianiaya.

Di tempat perlindungan Following Giants ini lah, Sow ketemu cinta lamanya. Gajah betina yang membuat Sow kepincut adalah Jahn. Pertemuan ini membuat Sow seakan punya harapan hidup lagi. 

Gajah Sow dan Jahn di pusat perlindungan Following Giants, Thailand Selatan (world animal protection/mirror.co.uk)

Gajah Sow sebelum diselamatkan Following Giants (world animal protection/mirror.co.uk)

Kedua gajah yang dimabuk asmara itu, sering terlihat saling mengunci belalainya sebagai tanda kasih sayang.

“Sow dan Jahn memiliki ikatan yang dalam, dan telah berteman selama 30 tahun terakhir. Mereka mengenal satu sama lain melalui waktu yang dihabiskan ketika menebang kayu, di kamp turis, dan selama periode istirahat pada musim sepi pengunjung,” kata George White, dari Badan Amal World Animal Protection,  seperti dikutip Mirror, 9 September 2020.

Saat Sow dan Jahn dipertemukan kembali di Following Giants, mereka tampak senang. Sekarang mereka dapat bersosialisasi lagi sampai kapan pun mereka suka.

Kendati begitu, kondisi Kesehatan Sow dan Jahn masih membuat resah dokter hewan, khususnya karena kerusakan giginya. Sow tidak dapat makan dengan benar sehingga tubuhnya menjadi sangat kurus.

“Setelah gigi terakhir dari gajah tua sudah tidak tajam lagi, mereka tidak dapat makan berbagai makanan yang mereka butuhkan. Kekurangan makanan membuat mereka berisiko kelaparan dan malnutrisi, atau masalah dari potongan besar makanan yang terlalu besar, yang terjebak dalam sistem pencernaan mereka,“ kata seorang dokter hewan yang merawat Sow dan Jahn. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, makanan untuk Sow dan Jahn, dua gajah yang sudah tua itu, dihancurkan. David Owen, Konsultan Perlindungan Hewan Dunia di Following Giants mengatakan pertemuan Sow dan Jahn telah membuat perbedaan besar pada kepribadian dan kesehatan Sow. Dia memiliki lebih banyak energi, terlihat jauh lebih berisi, bahkan kulitnya terlihat lebih baik.

Sekarang Sow dan Jahn menghadapi cobaan lain. Following Giants memperingatkan penurunan bisnis pariwisata karena Covid-19, telah membuat badan-badan amal yang membantu para gajah mengalami kesulitan. Pandemi virus corona telah membuat pariwisata di Thailand anjlok dan kondisi ini bisa membahayakan nyawa gajah-gajah.

TEMPO.CO | TERAS.ID