Hari Badak Sedunia 22 September, Badak Sumatera Paling Terancam

Penulis : Kennial Laia

Satwa

Jumat, 25 September 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Pekan ini, tepatnya Selasa, 22 September 2020, merupakan Hari Badak Sedunia. Sayangnya, satwa yang disebut mamalia terbesar di Bumi ini merupakan spesies yang paling terancam punah di dunia.

Saat ini terdapat dua jenis badak Afrika dan tiga badak Asia. Badak putih (Ceratotherium simum), badak hitam (Diceros bicornis), badak India (Rhinoceros unicornis), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Baca juga: Dua Anak Badak Jawa Lahir di Ujung Kulon

Kelima spesies tersebut dinyatakan terancam dari bahaya perburuan liar dan reproduksi rendah, namun badak sumatera sebagai spesies paling terancam. Populasinya menurun sebanyak 70% dalam 30 tahun terakhir.

“Badak sumatera jika tidak diselamatkan akan punah dengan sendirinya,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia, Widodo Ramono, Selasa, 21 September 2020. “Karena itu reproduksi dengan bantuan manusia saat ini menjadi perhatian kita." 

Badak sumatera, Ratu, dengan anaknya di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: International Rhino Foundation

Saat ini terdapat kurang dari 80 individu badak sumatera, dan hanya ada di Indonesia. Tujuh individu ada di Suaka Rhino Sumatera di Taman Nasional Way Kambas, satu individu di Suaka Alam Kelian di Kalimantan Timur, serta beberapa kantung yang tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Sementara itu, satu-satunya badak sumatera di  Malaysia, Iman, mati pada akhir 2019 lalu.

Dalam beberapa dekade terakhir, populasi badak sumatera terus menurun akibat perburuan liar dan hilangnya habitat. Namun saat ini ancaman utamanya adalah reproduksi yang rendah. Salah satu faktornya adalah kantung habitat yang terpencar, sehingga tidak memungkinkan jantan dan betina bertemu di satu tempat.

“Tingkat kesulitan breeding ini menjadi faktor besar, selain gangguan manusia,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno kepada wartawan, Selasa, 22 September 2020.

“Ada berbagai kebijakan dan rencana aksi darurat. Dan ini membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah,” katanya.

Pada 2017, pemerintah Indonesia mengembangkan Rencana Aksi Darurat untuk penyelamatan badak sumatera. Hal itu termasuk peningkatan perlindungan habitat, survei populasi tersisa di alam liar, serta mengevakuasi individual dengan potensi reproduksi dan memindahkannya ke suaka penangkaran dan pusat penelitian seperti di Way Kambas dan Kelian.

Tahun ini, upaya tersebut terkendala akibat pandemi Covid-19. International Rhino Foundation, memasuki tahun ketiga proyek terkait badak di Indonesia, dalam keterangan tertulis mengungkap kegiatan seperti pelatihan dan upaya penyelamatan badak tertunda.

“Beberapa rencana tertunda karena Covid-19, seperti pelatihan dan rescue tahun ini,” kata Direktur Eksekutif International Rhino Foundation (IRF) Nina Fascione. “Padahal, waktu sangat krusial dan kita semua harus melakukan apa yang mungkin untuk menyelamatkan badak sumatera dari kepunahan,” ujarnya.

Hingga saat ini, tidak ada temuan kasus transmisi Covid-19 dari manusia ke badak seperti yang terjadi dengan spesies lainnya, termasuk kucing dan primata. Upaya pencegahan yang dilakukan, misalnya, menjalankan protokol keselamatan ketat di pusat konservasi seperti Suaka Rhino Sumatera untuk menghindarkan tujuh individu badak sumatera dari virus mematikan tersebut.

Di Afrika, populasi badak hitam afrika barat (Diceros bicornis longipes) mengalami peningkatan walau tak signifikan, dari 5.500 menjadi 5.630 individu pada 2019. Spesies ini tetap berstatus terancam punah.

Spesies badak Afrika lainnya, badak putih terus turun selama dua tahun terakhir akibat perburuan liar. Saat ini populasinya diperkirakan sekitar 18.000 individu. Menurut International Rhino Foundation, populasinya akan terus turun tahun ini. Populasi badak India juga meningkat secara stabil, mencapai lebih dari 3.600 individu di India dan Nepal dari 100 individu pada awal 1900-an.