Ahli zoologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi menyatakan itu dalam diskusi Kamis, 1 Oktober 2020. "Tidak hanya dalam konteks budaya tapi kita sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi bisa melihat Borobudur dalam perspektif catatan spesies," kata dia.
Cahyo, yang ikut dalam kajian itu, mengatakan pemahat relief itu seperti ahli taksonomi dan ekologi karena cukup rinci memahat jenis hewan di tempat yang sesuai dengan habitatnya. Dia memberi contoh bagaimana pada candi yang berlokasi di Jawa Tengah itu terdapat pahatan burung dan kera yang berada di pohon dan buaya yang sedang berjemur di sungai.
"Buat saya (pemahat) ini adalah orang biologi yang memahami tidak hanya flora, fauna tapi juga aspek-aspek biologi yang ada di setiap gambar yang dipahatkan di situ," kata Cahyo.
Menurut dia, prospek ke depan terkait kajian relief Candi Borobudur sangat baik karena perpaduan kekayaan warisan budaya dan keanekaragaman hayati menjadi nilai penting dari kajian Borobudur dan candi-candi lain di masa depan. Selain itu, kemunculan fauna di candi-candi itu dapat memberikan gambaran keberadaan setiap spesies yang ada di Jawa dan menawarkan gambaran lingkungan yang lebih lengkap.
TEMPO.CO | TERAS.ID