Bunaken, Karimun dan Merapi Jadi Cagar Biosfer Dunia

Penulis : Betahita.id

Lingkungan

Minggu, 01 November 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB atau UNESCO menetapkan tiga cagar biosfer Indonesia, yaitu Bunaken Tangkoko Minahasa, Karimunjawa Jepara Muria dan Merapi Merbabu Menoreh sebagai UNESCO Biosphere Reserves dalam sidang International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme pada 27-28 Oktober 2020.

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Surya Rosa Putra mengatakan ketiga cagar biosfer tersebut berhasil masuk ke dalam daftar UNESCO setelah mendapat penilaian positif dari Advisory Committee dan setujui seluruh anggota ICC-MAB. "Sidang menetapkan sejumlah 24 proposal cagar biosfer baru pada pertemuan tersebut, termasuk cagar biosfer Indonesia," kata dia, Kamis, 29 Oktober 2020.

Secara keseluruhan terdapat 714 UNESCO biosphere reserves yang tersebar di 129 negara.

Ketiga cagar biosfer Indonesia yang diakui UNESCO tersebut memiliki keunikannya masing-masing.

Pemandangan bawah laut di Bunaken (Wikipedia)

Cagar Bunaken Tangkoko Minahasa merupakan ekosistem vulkanik yang memiliki keanekaragaman hayati bawah laut yang sangat kaya. Alam bawah laut Bunaken memiliki 390 spesies terumbu karang, 3.000 spesies ikan, spesies alga dan spesies rumput laut.

Bunaken juga setidaknya memiliki 40 spot menyelam yang membuatnya seolah menjadi surga para penyelam. Reruntuhan kapal Jerman yang kini sudah ditumbuhi terumbu karang memiliki keunikan tersendiri bagi penyelam.

Cagar biosfer Karimunjawa-Jepara-Muria adalah ekosistem unik yang merupakan gabungan kepulauan, dataran rendah dan pegunungan. Tersohor dengan lautnya yang indah, Karimunjawa menyimpan 400 spesies fauna laut dengan ragam ikan hias yang hidup di terumbu karang.

Di sekelilingnya juga ada gunung-gunung seperti gunung Gede dan gunung Maming. Beberapa perbukitan juga menjadi salah satu daya tarik Karimunjawa.

Adapun cagar Merapi Merbabu Menoreh merupakan ekosistem hutan pegunungan yang menjadi rumah bagi flora dan fauna khas Jawa. Gunung-gunung ini juga menjadi favorit para pendaki dan wisatawan untuk menikmati alamnya yang masih asri.

Bagi Indonesia, penetapan cagar biosfer tidak hanya bertujuan untuk melindungi dan melestarikan lingkungan hidup namun juga untuk memberi manfaat sosial-ekonomi pada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Dengan penetapan tiga cagar biosfer, saat ini, Indonesia telah memiliki total 19 UNESCO Biosphere Reserves yang tergabung dalam World Network of Biosphere Reserve (WNBR).

Cagar biosfer lainnya adalah Togean Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah dan Samota (Saleh-Moyo-Tambora) di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang ditetapkan pada Pertemuan the International Co-ordinating Council Man and Biosphere UNESCO (ICC-MAB) ke-31 di Paris pada 19 Juni 2019.

Empat belas cagar biosfer Indonesia lainnya adalah Cibodas di Jawa Barat (ditetapkan 1977); Lore Lindu di Sulawesi Tengah (1977; Komodo di Nusa Tenggara Timur (1977); Tanjung Puting di Kalimantan Tengah; Siberut di Sumatera Barat (1981); Leuser di Aceh (1981); Giam Siak Kecil Bukit Batu di Riau (2009); Wakatobi di Sulawesi Tenggara (2012); Taka Bonerate Kepulauan Selayar di Sulawesi Selatan (2015); Bromo Tengger Semeru Arjuno di Jawa Timur (2015); Belambangan di Jawa Timur (2016); Berbak Sembilang di Sumatera Selatan (2018); Rinjani Lombok di Nusa Tenggara Barat (2018); dan Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu di Kalimantan Barat (ditetapkan pada 2018)

TEMPO.CO | TERAS.ID

SHARE