Cerita Petani di Riau Olah Lahan Gambut Jadi Kebun Cabai

Penulis : Kennial Laia

Gambut

Rabu, 09 Desember 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Setiap tahun, Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut. Pengelolaan yang tidak berkelanjutan, pembakaran oleh pihak tidak bertanggung jawab, serta cuaca dan kerusakan ekosistem merupakan faktor yang menyumbang bencana tersebut. 

Di Desa Bagan Sinembah Timur, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Ilir, Riau, masyarakat mencoba untuk merestorasi lahan gambut lewat pertanian tanaman alternatif yakni cabai. Hal itu diungkapkan oleh Dessyka Febria, fasilitator yang mendampingi desa itu.

Dessyka mengatakan, awalnya tidak mudah karena mayoritas penduduk desa merupakan buruh sawit. 

“Jadi mereka beranggapan tidak ada tanaman selain sawit yang bisa dikembangkan di lahan gambut. Lalu bersama pemerintah desa kami yakinkan hingga terbentuk kelompok masyarakat yang mengikuti pelatihan dan mendapatkan pemahaman," katanya dalam diskusi virtual Festival Desa Peduli Gambut yang diadakan oleh Kemitraan Indonesia, Senin, 7 Desember 2020. 

Anggota BUMKep Bagan Sinembah Timur, Kec. Bagan Sinembah Raya, Kab. Rokan Hilir, Riau melakukan proses penanaman cabai dari Dana Hibah Kemitraan dengan luas lahan 0,5 ha, Kamis (5/3/2020). (Dok.Dessyka Febria/Mitragambut.id)

Lewat kerja sama Kemitraan dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), masyarakat kemudian mengembangkan pertanian cabai. Tanaman itu dipilih karena merupakan kebutuhan sehari-hari dan memiliki peluang pasar yang luas, kata Dessyka. 

Sebagai awal, pihak desa lebih dulu membuat kebun percontohan dengan pengelolaan tanpa bakar, namun menggunakan pupuk organik di lahan mineral. Setelah itu, dipilih seorang kader untuk meyakinkan masyarakat agar mengikuti program pengembangan itu. 

Namun prosesnya tidak mudah. Masyarakat desa, desa tetangga, hingga tingkat kecamatan meragukan bahwa cabai dapat tumbuh di lahan gambut. Menurut Dessyka, banyak pihak yang menganggap hal itu membuang waktu dan tenaga.

“Setelah beberapa lama, kader dapat meyakinkan masyarakat sekitar. Desa berhasil membuka lahan setengah hektare dengan hasil panen 1 ton dalam sebulan,” kata Dessyka.

“Karena pandemi, harganya jadi sangat murah. Namun, kadernya sangat bangga karena berhasil membuktikan ke tingkat kecamatan dan desa sekitar bahwa cabai bisa tumbuh di lahan gambut. Ternyata petani bisa menanam tanaman lain selain sawit di lahan gambut," tutur Dessyka.

Hasilnya pun manis. Menurut Dessyka, setelah program pionir itu berhasil, masyarakat membuka kebun cabai lain seluas satu hektare dengan bantuan dari BUMDES. Kebun tersebut digarap oleh kelompok petani. Setiap tahun 10% dari penghasilan pertanian akan disisihkan untuk restorasi gambut. Uang itu akan dianggarkan untuk pembelian infrastruktur di lahan gambut. 

"Nanti juga akan ditujukan untuk pencegahan dan penanggulangan karhutla," tutur Dessyka. 

Selain bertani cabai, masyarakat Desa Bagan Sinembah Timur juga beternak kambing. Sebagai awal, masyarakat membentuk sebuah kelompok bernama Pokmas, beranggotakan empat orang dan memelihara 13 ekor kambing. Hewan ternak itu dianggap bernilai ekonomi tinggi. Pakannya pun tersedia banyak di lahan gambut sekitar desa. 

"Masyarakat juga menganggap kegiatan angon atau menggembala kambing dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan patroli kebakaran saat musim kemarau. Ini menjadi upaya pencegahan karhutla," kata Dessyka. 

Per 6 Desember 2020, kegiatan itu telah menambah jumlah ternak menjadi 34 ekor. Seperti kebun cabai itu, kegiatan ini juga menerapkan sistem profit sharing dan penyisihan 10% untuk restorasi gambut di desa tersebut. 

SHARE