Mendengar Papua: Hutan Adalah Perempuan dan Hidup Itu Sendiri

Penulis : Kennial Laia

Hutan

Selasa, 30 Maret 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID - Hutan, bagi perempuan adat Papua, memiliki definisi khusus. Menurut Mama Ida Klasim, aktivis dan pembela hak perempuan Papua, hutan merupakan kehidupan itu sendiri. Selain makna filosofis dan menjadi identitas, hutan menyediakan berbagai macam kebutuhan seperti makanan, obat-obatan, hingga bahan kayu untuk membangun rumah.

“Kalau bicara hutan itu (berarti) bicara jati diri perempuan. Mereka adalah satu kesatuan yang utuh,” kata Mama Frida dalam diskusi virtual, Senin, 29 Maret 2021.

Bagi Mama Frida, hutan adalah “mama” yang memberikan hidup karena menyimpan seluruh kebutuhan hidup bagi perempuan adat Papua. Hutan bukan sekedar kubikasi kayu atau tanah yang bisa dihargai, namun merupakan diri perempuan itu sendiri. Ketika hutan dirusak, katanya, sama dengan menghancurkan hidup perempuan.

“Kehancuran hutan itu kehancuran hidup perempuan. Penghancuran itu kemudian menyebabkan kemiskinan,” katanya lagi.

Perempuan adat Tanah Papua. Foto: Berita Papua

Tanah Papua menyumbang 38 persen dari total luas hutan di Indonesia. Saat ini ekspansi industri kehutanan dan perkebunan skala besar merambah Tanah Papua. Data Auriga Nusantara, deforestasi di Papua naik signifikan dalam 20 tahun terakhir. Menurut laporan terbaru Auriga, dalam periode tersebut, terjadi penyusutan hutan seluas 663.443 hektare di Tanah Papua. Auriga juga menghitung laju deforestasi di angka 34.918 hektare per tahun.

Tak hanya deforestasi, ekspansi kehutanan dan perkebunan juga berakibat langsung terhadap kehidupan masyarakat adat di Tanah Papua. Mama Frida bilang, hal ini yang belum disadari oleh masyarakat umum. Selama ini masyarakat adat menjaga dan memperlakukan hutan dengan baik. Salah satunya, tidak tidak menebang pohon sembarangan.

“Harus ada kesadaran global bahwa hari ini kita menikmati hutanyang baik itu karena adanya kearifan lokal perempuan adat. Kearifan ini nggak bisa ditukar. Saat dijaga, lingkungan itu pun bersahabat dan bisa dinikmati,” katanya.

Elvira Rumkabu, akademisi dari Universitas Cenderawasih, Provinsi Papua, mengatakan, narasi perempuan adat sering hilang dari diskusi tentang Tanah Papua. Baik pengalaman maupun refleksi perempuan tidak hadir dalam arus utama diskursus konflik dan perubahan lanskap hutan di Pulau Cenderawasih.

Menurut Elvira, ruang lingkung perempuan adat Papua berada di dalam dan sekitar hutan. Namun, seringkali perempuan adat tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan meskipun punya wilayah kelola.

“Banyak praktik perempuan yang hilang karena adanya pembangunan. Ini karena perempuan tidak ditempatkan dalam pengambilan keputusan lantaran sistem marganya patriarkis,” tutur Elvira.

“Narasi perempuan tidak didengar padahal mereka punya wilayah kelola,” katanya lagi.

Frida mengatakan, saat ini isu hutan dan perempuan adat Papua terkait kesehatan dan pemaknaan dirinya terpinggirkan karena isu politik. Hal itu diperparah dengan pengambilan keputusan oleh laki-laki yang tidak melibatkan perempuan. Menurutnya, banyak kejadian ketika hutan adat diserahkan kepada perusahaan di luar sepengetahuan perempuan adat Papua.

“Hal ini tidak boleh lagi (terjadi). Perempuan muda harus berani mendobrak kebisuan ini, untuk memberikan keseimbangan dalam pengambilan keputusan antara perempuan dan laki-laki,” tegasnya.