F&F Buka Data Bank dan Investor Pendorong Deforestasi

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Deforestasi

Jumat, 11 Juni 2021

Editor :

BETAHITA.ID - Sekitar 50 bank dan investor terbesar di dunia dianggap ikut mendorong terjadinya deforestasi, melalui investasi besar dan kebijakan yang lemah pada komoditas terkait dengan perusakan hutan hujan tropis. Penilaian tersebut berdasarkan penelitian baru oleh Forests & Finance (F&F), sebuah koalisi riset yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil Amerika Serikat, Indonesia, Belanda, Brazil dan Malaysia.

Penelitian ini menilai lembaga keuangan atas kinerjanya, termasuk bank internasional besar seperti Bank of America, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), dan investor utama seperti Blackrock, Vanguard, dan State Street, yang berada pada skor yang sangat rendah.

Metodologi penilaian kebijakan F&F sendiri berfokus secara khusus pada sektor komoditas yang merisikokan hutan. Dalam hal ini ada 6 komoditas yang dianggap ikut menyebabkan terjadinya deforestasi, yakni kelapa sawit, bubur kertas, kayu, karet, kedelai dan daging sapi.

Penilaian tersebut juga menganalisis kebijakan umum dari sekitar 50 bank dan investor terbesar di dunia berdasarkan 35 kriteria, Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG), serta menggabungkannya dengan data yang dihitung dengan menggunakan informasi pembiayaan dan investasi yang tersedia di database F&F (periode Januari 2016-April 2020 untuk data kredit, dan April 2021 untuk data investasi).

Deforestasi hutan Kalimantan. Foto: Betahita

Setiap bank atau investor diberi peringkat berdasarkan kebijakan mereka serta jumlah pembiayaan pembiayaan komoditas yang berisiko terhadap hutan untuk menghitung keseluruhan skor lembaga keuangan tersebut. Skor diberikan dalam skala 0 hingga 10, semakin tinggi skor semakin baik kebijakan yang diterapkan, sebaliknya semakin rendah skornya semakin mengindikasikan kebijakannya terhadap risiko deforestasi buruk. Investor/bank dengan skor terendah dengan skor 0 yakni, Permodalan Nasional Berhad, Temasek dan CITIC. Sedangkan investor/bank dengan skor tertinggi di antaranya ABN Amro, Rabobank dan ING Group.

Desain terbaru pusat data F&F menunjukkan bahwa kebijakan lebih dari 50 lembaga keuangan yang menyumbang USD128 bilion dalam bentuk kredit dan penjaminan untuk komoditas terkait dengan deforestasi sejak tahun 2016 sampai dengan 2020 dan USD28,5 bilion dalam bentuk investasi per April 2021, secara kolektif sangat lemah, dengan skor rata-rata 2,4 dari 10.

10 Investor dan Bank dengan Skor Kebijakan Terendah

Nama

Skor

Kredit (USD Milion)

Investasi (USD Milion)

Negara

Permodalan Nasional Berhad

0

-

5,710

Malaysia

Temasek

0

-

165

Singapore

CITIC

0

2,154

3

China

Vanguard

0,2

-

1,894

United State

Bank of China

0,2

3,043

1

China

Industrial and Commercial Bank of China

0,2

3,861

1

China

Lembaga Kemajuan Tanah Persekutuan (FELDA)

0,2

-

1,110

Malaysia

Fidelity Investments

0,2

-

1,079

United State

Employees Provident Fund

0,3

71

4,162

Malaysia

Dimensional Fund Advisors

0,5

-

442

United State

 

10 Investor dan Bank dengan Skor Kebijakan Tertinggi

Nama

Skor

Kredit (USD Milion)

Investasi (USD Milion)

Negara

ABN Amro

7,1

2,094

1

Netherlands

Rabobank

6,8

8,671

-

Netherlands

Government Pension Fund Global

6,5

-

582

Norway

ING Group

6,2

1,695

0

Netherlands

Citigroup

5,9

2,931

3

United State

Standard Life Aberdeen

5,6

-

105

United Kingdom

HSBC

5,3

6,795

354

United Kingdom

JPMorgan Chase

5,1

7,584

284

United State

Mitsubisi UFJ Financial

5,1

5,065

60

Japan

DBS

4,3

3,815

202

Singapore

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembiayaan untuk berbagai komoditas yang mendorong deforestasi (daging sapi, kelapa sawit, pulp dan kertas, karet, kedelai dan kayu) tidak tunduk pada kriteria dasar sosial, lingkungan atau pemeriksaan tata kelola, apalagi memenuhi verifikasi standar klien yang sebenarnya.

Data terbaru juga menambahkan fitur-fitur penilaian kebijakan yang diperluas pada 6 sektor yang berisiko terhadap hutan, data obligasi dan kepemilikan saham yang diperbarui, serta studi kasus tentang dampak sosial dan lingkungan dari keuangan yang tidak bertanggung jawab.

"Melindungi hutan tropis dunia benar-benar tidak pernah sepenting ini bagi seluruh kehidupan di bumi. Akan tetapi, lembaga keuangan malah menulis cek kosong kepada perusahaan yang mendorong perusakan hutan dan pelanggaran hak asasi manusia. Lembaga keuangan harus mampu mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko ini dalam portofolio mereka, dan bukannya malah memberikan perusahaan-perusahaan ini hak untuk menghancurkan hutan," ujar Merel van der Mark, Koordinator Koalisi Forests & Finance, Rabu (9/6/2021).

Di kesempatan yang sama, Direktur Iklim dan Keuangan Amazon Watch, Moira Birss menyebut, Blackrock sebagai manajer aset terbesar di dunia memberikan sejumlah besar modal kepada perusahaan yang mendorong deforestasi dan merongrong hak-hak masyarakat adat, hingga mencapai USD2 miliar. Nilai tersebut meningkat 157 persen dibandingkan April 2020 lalu, saat kehidupan para penjaga Bumi kian terancam dan penggundulan hutan terus meroket.

"Blackrock perlu mengambil tindakan tegas untuk menghentikan pendanaan perusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak Masyarakat Adat, terutama di bioma sensitif seperti Amazon," kata Moira Birss.

Direktur Eksekutif Repórter Brasil, Marcel mengatakan, meski masih mendapat skor rendah pada kebijakannya, BNDES, investor terbesar komoditas berbasis lahan di Amerika Selatan, telah menurunkan eksposurenya pada perusahaan komoditas berisiko terhadap hutan yang beroperasi di Amerika Selatan selama setahun terakhir.

"Di sisi lain, lima investor teratas lainnya, BlackRock, Fidelity Investments, Vanguard dan GPIF, malah meningkatkan eksposure mereka. Semua perusahaan ini mendapat nilai sangat rendah dan masih ada investasi signifikan yang mengalir ke penggundulan hutan Amazon, dengan sedikit upaya lembaga keuangan untuk menghentikannya," ungkap Marcel.

Secara global, dari USD258,145 milion dana yang dipinjamkan oleh bank dari untuk 6 komoditas tersebut USD65,355 milion diberikan untuk komoditi kertas dan bubur kertas, USD62,383 milion untuk daging sapi, USD59,823 milion untuk kelapa sawit, USD41,797 milion untuk kedelai, USD17,359 milion untuk karet dan USD11,430 milion untuk kayu.

Kemudian dari USD45,285 milion dana yang ditempatkan oleh para investor, hampir separuhnya atau sebesar USD22,513 milion diinvesasikan untuk komoditas kelapa sawit, USD9,703 milion untuk kertas dan bubur kertas, USD4,932 milion untuk karet, USD4,302 milion untuk daging sapi, USD1,963 milion untuk kedelai dan USD1,873 milion untuk kayu.

Berikut ini daftar 10 bank dan investor yang menempatkan uangnya, baik dalam bentuk pemberian pinjaman kredit maupun investasi pada komoditas yang mendorong deforestasi (kelapa sawit, bubur kertas dan kertas, karet, kedelai, kayu dan daging sapi) di wilayah Afrika Barat dan Tengah, Amerika Latin dan Asia Tenggara, dalam rentang waktu 2013-2021.

10 Bank Pemberi Pinjaman Kredit Terbesar

Nama

Skor

Kredit (USD Million)

Negara

Banco do Brazil

3,9

47,436

Brazil

Bradesco

1

13,037

Brazil

Rabobank

6,8

8,671

Netherlands

Mizuho Financial

3,8

8,109

Japan

Itau Unibanco

1,6

7,770

Brazil

JPMorgan Chase

5,1

7,584

United State

Malayan Banking

3,3

7,504

Malaysia

HSBC

5,3

6,795

United Kingdom

Santander

3,7

6,685

Spain

BNP Paribas

4,1

6,089

France

 

10 Investor dengan Nilai Investasi Terbesar

Nama

Skor

Investasi (USD Million)

Negara

Permodalan Nasional Berhad

0

5,710

Malaysia

Employees Provident Fund

0,3

4,162

Malaysia

BNDES

2,9

2,934

Brazil

Blackrock

1

2,066

United State

Vanguard

0,2

1.894

United State

Kwap Retirement Fund

0,5

1,274

Malaysia

Lembaga Kemajuan Tanah Persekutuan (FELDA)

0,2

1,110

Malaysia

Fidelity Investments

0,2

1,079

United State

Eight Capital

-

1,077

British Virgin Islands

Genting

-

913

Malaysia

 

Meenakshi Raman, Presiden SAM mengungkapkan, lima investor terbesar di perusahaan terkait deforestasi di Asia Tenggara, semuanya mendapat skor sangat rendah dalam penilaian F&F. Meenaskshi mengatakan, pihaknya membutuhkan investor mengambil tanggung jawab atas investasi yang mereka lakukan dan mendanai masa depan yang berkembang untuk Asia Tenggara, alih-alih menghancurkannya.

Direktur Eksekutif Transparansi untuk Keadilan (TuK) Indonesia, Edi Sutrisno mengatakan, perbankan Indonesia, meski masih mendapat skor sangat rendah, namun menunjukkan beberapa peningkatan dalam penilaian yang pihaknya lakukan sejak 2018.

"Perbaikan positif ini menurutnya adalah jalan yang tepat bagi bank-bank di Indonesia.Hanya saja perlu ada meningkatkan dari sini," ujar Edi.

Edi menjelaskan, sektor tambang sebenarnya juga merupakan penyebab deforestasi, hanya saja dalam data yang disajikan kolisi ini masih seputar komoditi sawit, pulp dan kertas, kayu, karet, daging sapi dan kedelai. Pihaknya saat ini juga sedang mendiskusikan strategi untuk memasukkan sektor tambang dalam data tersebut.

"Terkait dengan deforestasi, tentu harus melihat kinerja klien di lapangan. Sebagai contoh, RGE (Royal Golden Eagle Group) telah melakukan deforestasi dan RGE memiliki track record yang tidak baik, mengakibatkan dampak ESG, dalam beroperasi. Nah jika institusi pembiayaan masih dan terus membiayai maka mereka dianggap mendorong deforestasi."

Selanjutnya untuk institusi pembiayaan, masih kata Edi, jika memiliki kebijakan yang baik dan melakukan penegakan regulasinya, maka ini sangat diapresiasi dan pihaknya mendorong agar institusi-institusi tersebut dapat mendorong perbaikan kinerja perusahaan klien. Sedangkan untuk institusi pembiayaan yang belum memiliki regulasi yang baik dan tidak ada upaya perbaikan regulasinya, tentu hal ini sangat disayangkan dan tentu dapat dikatakan terlibat dalam mendorong deforestasi.

Untuk di wilayah Asia Tenggara, dari USD30 bilion dalam bentuk obligasi dan saham yang diinvestasikan merisikokan hutan, tiga perempat atau 74 persennya digelontorkan untuk kelapa sawit, 16 persen untuk karet, dan sisanya masing-masing 5 persen untuk pulp and paper dan kayu. Dana tersebut dua pertiganya berasal dari Asia (Asia Tenggara 55 persen dan Asia Timur 10 persen, seperlimanya atau 20 persen dari Amerika Utara, Amerika Tengah 5 persen, Eropa 9 persen (EU27 4 persen dan Eropa lainnya 5 persen) dan sisanya berasal dari negara di luar wilayah-wilayah tersebut.

10 Bank dengan Pemberi Pinjaman Kredit Terbesar di Wilayah Asia Tenggara

Nama

Skor

Kredit (USD Million)

Negara

Malayan Banking

3,3

7,406

Malaysia

Bank Rakyat Indonesia

2,4

5,691

Indonesia

Bank Mandiri

3

5,627

Indonesia

Mizuho Financial

3,8

4,965

Japan

Bank Negara Indonesia

2

3,982

Indonesia

Oversea-Chinese Banking Corporastion

1,8

3,893

Singapore

CIMB Group

1

3,735

Indonesia

Mitsubishi UFJ Financial

5,1

3,493

Japan

Bank Central Asia

2,3

3,189

Indonesia

Industrial and Commercial Bank of China

0,2

2,905

China

 

10 Investor dengan Nilai Investasi Teratas di Wilayah Asia Tenggara

Nama

Skor

Investasi (USD Million)

Negara

Permodalan Nasional Berhad

0

5,604

Malaysia

Employees Provindent Fund

0

4,090

Malaysia

Kwap Retirement Fund

0,5

1,266

Malaysia

Vanguard

0,2

1,252

United State

Lembaga Kemajuan Tanah Persekutuan (FELDA)

0,2

1,096

Malaysia

Eight Capital

-

1,077

British Virgin Islands

Blackrock

1

959

United State

Genting

-

913

Malaysia

Government Pension Investment Fund

0,6

596

Japan

Oversea-Chinese Banking Corporation

1,8

505

Singapore

 

Sebuah studi mengindikasikan bahwa perusakan ekosistem hutan berkorelasi dengan munculnya penyakit zoonosis baru seperti virus corona. Ini berarti menghentikan deforestasi sangat penting untuk mencegah terjadinya pandemi di masa depan.

Namun, pada 2020 saja 12,2 juta hektare hutan tropis hilang. Dari penilaian ini ditemukan bahwa lembaga keuangan telah meningkatkan investasi mereka untuk penggundulan hutan pada periode yang sama. Dibandingkan tahun lalu, total nilai investasi pada perusahaan komoditas berbasis hutan telah meningkat dari USD37,2 bilion pada April 2020 menjadi USD45,7 bilion pada April 2021.

SHARE