Studi: Banjir Besar Akan Semakin Sering Terjadi di Eropa

Penulis : Tim Betahita

Perubahan Iklim

Senin, 26 Juli 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Banjir yang katastrofik seperti yang melanda Eropa Barat pertengahan Juli lalu dapat menjadi lebih sering sebagai akibat dari pemanasan global, studi terbaru mengungkap.

Pemodelan komputer resolusi tinggi menunjukkan bahwa badai yang bergerak lambat bisa menjadi 14 kali lebih sering terjadi di darat pada akhir abad ini dalam skenario terburuk. Semakin lambat badai bergerak, semakin sering hujan turun. Ini memperbesar risiko banjir yang serius.

Ilmuwan telah mengatakan, suhu udara yang semakin tinggi akibat krisis iklim menyebabkan atmosfir semakin lembab, dan berakibat pada curah hujan ekstrem. Namun analisis baru-baru ini menemukan hubungan bahwa badai yang bergerak lambat dengan hujan ekstrem di Eropa. 

Badai yang diproyeksikan di dalam pemodelan tersebut bahkan bergerak lebih lambat dari yang terjadi di Jerman, Belanda, dan wilayah barat Eropa lainnya minggu lalu. Artinya, curah hujan bisa menjadi lebih ekstrem dan banjir besar pada masa mendatang.

Kondisi pemukiman penduduk di Erfstadt-Blessem, selatan provinsi Cologne, Jerman, setelah banjir bandang minggu lalu. Foto: Sascha Steinbach/EPA

“Simulasi ini menunjukkan (bencana yang lebih buruk) dapat terjadi,” kata Abdullah Kahraman dari Newcastle University, Inggris, yang merupakan peneliti utama, Jumat, 23 Juli 2021. 

Prof Lizzie Kendon dari UK Met Office mengatakan, studi tersebut relevan dengan banjir bandang yang terjadi di Jerman dan Belgia. “Studi ini mengungkap bahwa selain curah hujan akibat pemanasan global, intensitas badai yang bergerak lambat juga akan meningkat.” 

Sejauh ini ilmuwan memperkirakan, memanasnya Arktik sebagai akar penyebab sistem cuaca yang melambat, dengan memperlambat angin tingkat tinggi seperti aliran jet. Fenomena ini dihubungkan dengan gelombang panas yang terjadi di Rusia dan banjir di Pakistan.

Studi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan terbesar di badai yang bergerak lambat di darat terjadi pada musim panas.  “Pada musim ini, terutama Agustus, peningkatan paling tinggi terjadi di sebagian besar kontinen Eropa,” jelas Kahraman.

Model studi tersebut juga mencakup wilayah cuaca dingin seperti Inggris Skandinavia. Wilayah ini disebut berpotensi akan mengalami cuaca ekstrem serupa.

Banjir yang melanda Eropa Barat minggu lalu telah mengklaim 180 jiwa dan kerusakan infrastruktur parah yang mengejutkan para ilmuwan.

Studi tersebut diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters, menggunakan komputer Met Office dengan resolusi 2 kilometer, ukuran yang sama digunakan dengan prakiraan cuaca. Asesmen tersebut menggunakan skenario jika emisi karbon tidak dipotong dan terus meningkat.

“Ini memberikan gambaran dampak perubahan iklim jika manusia tidak mengubah emisi atau perilakunya,” kata Kahraman.

THE GUARDIAN