Kala Kebun Raya Bogor Dikritik Para Mantan

Penulis : Syifa Dwi Mutia

Lingkungan

Rabu, 29 September 2021

Editor :

BETAHITA.ID -  Sejumlah mantan pemimpin Kebun Raya Bogor mengkritik rencana atraksi sinar lampu, Glow, yang diadakan di Kebun Raya Bogor.

Kritik tersebut disampaikan oleh kelima mantan pemimpin yakni, Prof. Dr. Made Sri Prana, Prof. Dr. Usep Soetisna, Dr. Ir. Suhirman, Prof. Dr. Dedy Darnaedi, dan Dr. Irawati, melalui Surat Istimewa No. 1, yang berjudul “Menjaga Marwah Kebun Raya” (20/9).

Para mantan pemimpin menyayangkan banyaknya kegiatan yang keluar dari Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Kebun Raya dan semakin jauh dari marwah (harga diri) Kebun Raya sebagai tempat konservasi, penelitian, pendidikan, wisata ilmiah, dan jasa lingkungan.

Kebun Raya Bogor yang sudah berumur lebih dari dua abad dalam sejarah panjangnya selalu mengedepankan pendekatan ilmiah dan memperhatikan masalah konservasi dan lingkungan. Berbagai kegiatan dan usaha yang dilakukan Kebun Raya selalu mempertimbangkan kelima fungsi tersebut dan selalu memiliki green business yang sifatnya environmentally friendly.

Pohon Raja (Koompassia Excelsa). Dok.Kebun Raya Bogor

Berbagai masukan dan keluhan masyarakat atas komersialisasi Kebun Raya nyaring terdengar di media sosial. Puncaknya, saat munculnya petisi pada Senin (27/9) yang mendesak Presiden Joko Widodo untuk menyelamatkan konservasi dan cagar alam yang terletak di Bogor itu.

Surat yang ditujukan kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, Wali Kota Bogor Bima Arya, dan Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto, diminta untuk meninjau ulang kegiatan yang dikhawatirkan akan mengganggu kelestarian tumbuhan dan hewan di dalam konservasi tersebut.

“Rencana GLOW membuat atraksi sinar lampu di waktu malam, berpotensi merubah keheningan malam Kebun Raya. Nyala dan kilau lampu dikhawatirkan akan mengganggu kehidupan hewan dan serangga penyerbuk,” jelas para mantan pemimpin dalam surat tersebut.

Para mantan pemimpin menjelaskan, lampu yang berlebihan di malam hari akan mengganggu perilaku dan fisiologi serangga penyerbuk baik nokturnal maupun diurnal. Hal ini memungkinkan terjadinya penurunan produksi buah akibat penyerbukan yang terganggu.

Pembangunan yang tidak sesuai dengan Peraturan LIPI no. 4 tahun 2019 tentang Pembangunan Kebun Raya Bogor dapat memengaruhi daerah resapan air. Adanya pengecoran dengan semen di jalan batu gico, diperkirakan akan melebih batas dari batasan peraturan yang maksimal 20% dari luas total Kebun Raya.

“Jalan setapak yang tersusun oleh batu kali khas Kebun Raya Bogor, kini di banyak bagian telah dicor dengan semen. Tidak hanya mengurangi keindahan jalan batu gico, tapi juga mengurangi resapan air. Air yang tidak meresap, mengalir di selokan  dan langsung menuju sungai, akibatnya volume sungai akan meningkat,” jelas dalam surat tersebut.

Menurut para mantan pemimpin, berkurangnya resapan air memungkinkan terjadinya banjir di Jakarta sehingga penting untuk memelihara ekohidrologi Kebun Raya.

Selain itu, para mantan pemimpin menyayangkan koleksi buku tua “antiquarium” yang sebagai napas penting peneliti, dipindahkan ke tempat yang jauh dari Kebun Raya. “Hal ini sangat mungkin mengganggu kegiatan peneliti dan kunjungan mahasiswa, dan peneliti luar yang perlu akses ke buku-buku dan informasi penting Kebun Raya. Menjauhkan buku dan sumber informasi dari keseharian peneliti Kebun Raya adalah kebijakan yang tidak mendorong meningkatnya riset, sekaligus menjauhkan munculnya inovasi kreatif para peneliti.”

Maka dari itu, para mantan pemimpin mendesak empat hal:

1. Perlunya meninjau kembali rencana GLOW di Kebun Raya, yang pasti akan mengusik keheningan malam Kebun Raya dan mengganggu fungsi serangga polinator dan hewan penyerbuk lainnya.

2. Sebaiknya segera dihentikan pembangunan fisik termasuk pengecoran jalan gico yang akan mengurangi resapan air yang diperlukan oleh tumbuhan, dan untuk usaha mengurangi kontribusi air penyebab banjir di Jakarta.

3. Perlu evaluasi atas Kerja Sama yang dilakukan dengan melibatkan unsur lain yang terkait dan memberi perhatian pada kekhususan Kebun Raya. Selain itu tentunya perlu meningkatkan kolaborasi dan sinkronisasi dengan bagian lain yang juga berada di dalam lingkungan Kebun Raya.

4. Langkah ini sangat diperlukan mengingat berbagai nilai historis dan fungsi strategis kebun Raya adalah modal penting dalam usaha mengusung Kebun Raya sebagai World Heritage, yang kini sedang dalam proses. Kegiatan kerjasama dengan pihak manapun harus memberi dampak positif pada usaha pengusulan World Heritage tersebut.

Sejarah mencatat, saat awal berdirinya Kebun Raya, Pemerintah kolonial Belanda memanfaatkan Kebun Raya sebagai kawasan aklimatisasi tumbuhan ekonomi penting untuk tujuan bisnis “cultuurstelsel” atau Sistem Tanam Paksa. Saat itu, berbagai jenis tumbuhan asing yang bernilai ekonomi dimasukkan seperti kopi, teh, kina, kelapa sawit, dan lain-lain yang kini ikut menopang perekonomian nasional, dan menjadi andalan sumber devisa negara.

Setelah kemerdekaan dan dikelola oleh putra Indonesia, Kebun Raya lebih mengedepankan pendidikan, penelitian dan kegiatan eksplorasi serta konservasi, menyelamatkan tumbuhan, dengan tidak memperhitungkan nilai bisnis. Kebun Raya mempertahan statusnya awjak 2001 sebagai Pusat Konservasi Tumbuhan, Eselon II, yang kini dengan nama Pusat Riset Konservasi Tumbuhan-BRIN. Status Kebun Raya-LIPI mencerminkan pentingnya fungsi Kebun Raya sebagai lembaga ilmiah yang berperan menahan tingginya laju kepunahan jenis tumbuhan di Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden No 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya.

Dulu, Bisnis Kebun Raya dilakukan secara terbatas, hanya dengan menjual tiket masuk dengan harga sangat murah dibanding tempat lainnya. Karena Kebun Raya memang bukan rekreasi melainkan lembaga ilmiah. Tujuan tiket murah ini agar dapat menjangkau masyarakat luas sehingga diharapkan berbagai pesan konservasi dan pendidikan dapat tersampaikan di seluruh lapisan masyarakat. 

Koleksi Tumbuhan di Kebun Raya adalah koleksi aset bangsa yang perlu dilestarikan, diteliti, dan digali potensinya untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Berbagai usaha yang dilakukan oleh pimpinan terdahulu Prof. Ir Kusnoto Setyodiwiryo, Soedjana Kassan, Prof. Didin Sastrapradja dan seterusnya memberi contoh pentingnya menjaga Kebun Raya sebagai kawasan hijau, tempat berbagai jenis tumbuhan langka, dan bernilai ekonomi penting.

Kebun Raya Bogor adalah kebun yang tidak terpisahkan dari masyarakat Bogor, dan sekaligus sebagai ikon kebanggaan. Kebiasaan masyarakat melakukan rekreasi kebun dengan gelar tikar, makan bersama dan bercengkrama bersama keluarga di rindangnya pepohonan langka, adalah bagian kehidupan yang telah berlangsung secara turun temurun. Murah meriah, namun syarat dengan nilai silaturahmi.

Kemudian berkembang menjadi wisata jalan santai, tempat wisuda anak-anak TK dan SD dan kegiatan sosial lainnya. Kegiatan lain seperti acara pernikahan, pameran flora, lomba cerdas cermat tetap dilakukan dengan sangat hati-hati menjaga kenyamanan lingkungan dan sesedikit mungkin akses ke koleksi dan nilai penting Kebun Raya lainnya. Hijaunya Kebun Raya di tengah gemuruh pembangunan, bagaikan oase di tengah padang pasir. Kebun Raya berkontribusi menahan laju pemanasan global.

Para mantan pemimpin berharap, citra baik Kebun Raya yang telah mendunia dan sebagai bagian tak terpisahkan dari jejaring Internasional IABG (International Association of Botanic Gardens) dan BGCI (Botanic Gardens Conservation International) tetap terjaga.