Studi: Interaksi dengan Alam di Kota Dapat Redakan Kesepian

Penulis : Tim Betahita

Lingkungan

Kamis, 23 Desember 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Studi terbaru mengungkap kontak dengan alam di wilayah perkotaan mampu mengurangi perasaan kesepian secara signifikan. Menurut penelitian tersebut, kesepian merupakan masalah kesehatan mental utama manusia, yang dapat meningkatkan risiko kematian seseorang sebesar 45%. Angka itu lebih besar dari risiko akibat polusi udara, obesitas, atau penyalahgunaan alkohol.

Studi tersebut merupakan yang pertama kali menilai bagaimana lingkungan dapat memengaruhi kesepian. Para ilmuwan menggunakan data waktu nyata, dikumpulkan melalui aplikasi ponsel pintar ketimbang ingatan orang tentang perasaan mereka.

Penelitian menemukan bahwa perasaan akibat keramaian meningkatkan kesepian rata-rata 39%. Namun ketika orang dapat melihat pohon atau langit, atau mendengar kicauan burung, perasaan kesepian turun sebesar 28%.

Perasaan inklusi sosial juga mengurangi kesepian sebesar 21%, dan ketika perasaan ini bertepatan dengan kontak dengan alam, efek menguntungkannya meningkat sebesar 18%.

Polusi di Jakarta. Dok. Greenpeace

Temuan tersebut menunjukkan intervensi untuk mengurangi kesepian. “Diperlukan langkah-langkah khusus untuk meningkatkan inklusi sosial dan kontak dengan alam, terutama di kota-kota padat penduduk,” menurut laporan yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports tersebut, Minggu (20/12).

Studi tersebut disebut menantang pandangan tradisional tentang kota sebagai tempat yang selalu buruk bagi kesehatan mental dan kesepian. “Mungkin ada aspek-aspek seperti fitur alam dan inklusivitas sosial yang sebenarnya bisa mengurangi kesepian (di wilayah perkotaan),” kata Prof Andrea Mechelli, bagian dari tim peneliti dan pakar intervensi awal kesehatan mental di King's College London di Inggris. 

Penelitian itu mengumpulkan data dari warga urban di seluruh dunia dengan menggunakan aplikasi penelitian Urban Mind. Selama dua minggu, orang-orang diminta secara acak tiga kali sehari, selama jam bangun, untuk menjawab pertanyaan sederhana tentang kesepian, kepadatan penduduk, inklusi sosial, dan kontak dengan alam. 

Lebih dari 750 orang memberikan 16.600 respon dalam asesmen ini, yang mencakup pertanyaan “apakah Anda merasa diterima di antara orang-orang di sekitar Anda?” dan “bisakah kamu melihat pohon sekarang?”.

Para peserta memilih sendiri sehingga tidak memberikan sampel yang representatif dari populasi yang lebih luas. Tetapi ketika para peneliti memperhitungkan usia, etnis, pendidikan, dan pekerjaan, manfaat dari kontak alam dan perasaan inklusi sosial pada kesepian tetap signifikan secara statistik.

Profesor Christopher Gidlow, peneliti kesehatan terapan di Staffordshire University di Inggris, mengatakan alam telah lama diketahui dapat mendorong interaksi sosial dan keterhubungan manusia.

“Keakraban dengan lingkungan tidak diukur, tetapi kemungkinan berperan karena orang cenderung mengunjungi lingkungan alam yang sama. Keakraban seperti itu telah dikaitkan dengan perasaan lebih terhubung ke suatu tempat, dengan kemungkinan manfaat kesehatan mental, katanya. 

THE GUARDIAN