Underreported, 10 Negara dalam Darurat akibat Krisis Iklim

Penulis : Kennial Laia

Perubahan Iklim

Senin, 17 Januari 2022

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Negara-negara di dunia telah mengalami dampak dari perubahan iklim yang semakin cepat. Dari Afghanistan hingga Etiopia, terdapat sekitar lebih dari 200 juta jiwa yang hidup dalam darurat kemanusiaan melanda akibat krisis iklim.

Namun tidak semua mendapatkan perhatian khusus, terutama pemberitaan media massa. Temuan ini diterbitkan dalam laporan tahunan Care International, Jumat, 14 Januari 2022. Organisasi kemanusiaan tersebut merangkum 10 negara yang paling sedikit diberikan secara daring (artikel lima bahasa) di seluruh dunia pada 2021. 

Tidak meratanya pemberitaan media ini terjadi meskipun terdapat setidaknya 1 juta jiwa terdampak konflik atau bencana iklim di masing-masing negara.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 235 juta jiwa di seluruh dunia membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2021. Namun perhatian dunia berpusat pada pandemi Covid-19.

Perempuan dan anak-anak dari Amerika Tengah melewati jalan raya di provinsi Chiapas, Meksiko, pada 2018. Krisis iklim memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka, yang luluh lantak akibat bencana maupun konflik. Foto: Ritzau Scanpix/UNCHR

CEO Care International Inggris Laurie Lee mengatakan, laporan itu menyoroti bagaimana krisis iklim yang memburuk memicu banyak keadaan darurat di dunia.

“Ada ketidakadilan yang mendalam di jantungnya. Orang-orang termiskin di dunia menanggung beban perubahan iklim – kemiskinan, migrasi, kelaparan, ketidaksetaraan gender, dan sumber daya yang semakin langka – meskipun telah berbuat paling sedikit untuk menyebabkannya,” kata Lee dalam rilis di situs Care International, Kamis, 13 Januari 2022.

“Tambahkan Covid-19 ke dalam campuran dan kami melihat kemajuan selama beberapa dekade dalam mengatasi ketidaksetaraan, kemiskinan, konflik, dan kelaparan menghilang di depan mata kami.”

Jumlah orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan diperkirakan akan meningkat menjadi 274 juta tahun ini, atau satu dari 28 orang, dan lebih dari 84 juta orang telah mengungsi dari tempat asalnya. 

Zambia

Krisis kemanusiaan yang terjadi di Zambia, Afrika, tidak menjadi berita utama selama 2021. Negara ini memiliki 1.2 juta orang kurang gizi dan sekitar 60% dari 18.4 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar $1,90 (Rp 27.154) per hari.

Perempuan menjadi kelompok paling rentan. Di Zambia, kaum perempuan menghasilkan 60% dari pasokan makanan negara. Namun keluarga yang dikepalai oleh wanita menghadapi tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dari keluarga yang dikepalai oleh pria.

Kekeringan panjang, perubahan iklim, Covid-19, dan kemiskinan, yang kebanyakan berdampak pada perempuan, jarang diberitakan media. Akibatnya, Zambia dan krisisnya menjadi negara yang paling tidak diacuhkan pada 2021.

Lahan yang dulunya subur di desa Natonga, Zambia, mampu menghasilkan 14 bahan pangan yang berbeda. Karena krisis iklim kini mengalami kekeringan, menyebabkan krisis pangan di negara tersebut. Foto: CIFOR

Ukraina

Konflik bersenjata di timur Ukraina masih telah berlangsung selama tujuh tahun. Sebanyak 3.4 juta penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dua pertiganya merupakan anak-anak dan perempuan, yang terus menghadapi kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

“Meskipun solusi politik yang komprehensif untuk konflik masih belum terlihat, orang-orang di Ukraina timur setiap hari dipaksa untuk mempertaruhkan nyawa mereka. Sepanjang 420 km 'jalur kontak' yang memisahkan wilayah yang dikuasai pemerintah Ukraina dari wilayah separatis, situasinya sangat berbahaya," kata laporan itu.

Malawi

Malawi tengah menghadapi krisis ketahanan pangan. Sebanyak 17% dari total populasi mengalami kelaparan parah. Kekeringan, banjir, dan tanah longsor diprediksi semakin buruk pada masa mendatang. Sementara itu bencana topan telah memaksa orang-orang kehilangan rumah mereka.

“Penduduk (Malawi) mengalami dampak krisis iklim lebih dulu dan lebih parah dibandingkan penduduk di utara bumi,” kata Chikondi Chabvuta, advokat di Care International Malawi.

“Kami telah melihat konsekuensi nyata dari curah hujan yang terlambat, curah hujan yang destruktif, pola hujan yang tidak dapat diprediksi, tanah tidak subur, dan gagal panen.” 

Republik Afrika Tengah

Perang sipil yang terjadi di Republik Afrika Tengah (CAR) telah memperburuk krisis kemanusiaan, menyebabkan setengah dari populasinya menderita kekurangan pangan. Pada 2021, lebih dari 700.000 orang terusir dari rumah mereka, 50% merupakan anak-anak.

“Rata-rata, anak sekolah hanya selama empat tahun, dan anak perempuan hanya tiga tahun,” tulis laporan tersebut. Sekitar 30% anak menjadi pekerja di usia dini. Tahun lalu, konflik bersenjata di CAR berhenti sementara.

Guatemala

Kemiskinan, kekerasan, dan krisisiklim merupakan masalah besar di Guatemala. Dua pertiga dari populasi hidup dengan uang kurang dari $2 per hari dan 38% penduduk hidup kekurangan pangan.

Guatemala disebut sebagai salah satu negara paling berbahaya, dengan 3.500 kasus pembunuhan pada 2020 saja. “Walaupun 3.3 juta orang bergantung pada bantuan kemanusiaan, tingginya angka kekerasan turut menghalangi masyarakat mengakses bantuan tersebut,” tulis laporan itu.

Kolombia

Hampir lima juta manusia hidup di bawah kendali kelompok bersenjata di Kolombia. Sementara itu sebanyak 6.7 jiwa hidup bergantung pada bantuan kemanusiaan. Resesi ekonomi (akibat pandemi) disebut sebagai penyebab krisis pangan. Masyarakat adat menerima dampak paling parah.

Secundino Orellana di Honduras kehilangan rumahnya akibat Badai Eta dan Iota yang menghancurkan sebagian besar wilayah Honduras. Foto: Johannes Chinchilla/IFRC

Burundi

Burundi menduduki peringkat ketujuh dari negara yang paling sedikit mendapat perhatian pada 2021 dalam laporan Care International. Padahal 2.3 juta dari 12.6 juta populasinya membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Cuaca ekstrem, kelaparan, dan kerusuhan politik merupakan tiga dari masalah yang dihadapi penduduk Burundi. Negara ini bergantung pada pertanian skala kecil, namun lahan yang cocok untuk penanaman hanya sepertiga dari total wilayahnya akibat kekeringan, banjir, dan tanah longsor.

Laporan itu juga menyorot diskriminasi struktural terhadap perempuan. Hal ini terlihat dari keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan (20%) sedangkan 60% dari pekerja di sektor agrikultur merupakan perempuan.

Niger

Niger, salah satu negara di Afrika, sangat rentan terhadap bencana iklim. Kekeringan terus-menerus dan banjir berulang telah menyebabkan konsekuensi katastrofik. Sebanyak 3 juta orang bergantung pada bantuan kemanusiaan. Sementara itu 1.8 juta anak-anak membutuhkan bantuan makanan dan setengah dari seluruh anak-anak berumur lima tahun menderita busung lapar. 

Milisi di timur dan utara Niger telah menyebabkan 313.000 orang mengungsi pada September lalu. “Bantuan darurat seringkali terhalang oleh fakta bahwa infrastruktur hancur, daerah operasi ditandai dengan kekerasan dan daerah pedesaan sulit diakses,” kata laporan itu.

Marariya Miko, perempuan petani yang terdampak akibat kekeringan panjang dan gagal panen di Niger, Afrika. Marariya bekerja di kebun dan menjaga ternak untuk menghidupi keluarganya. Dia hanya makan sekali sehari. Foto: Care International  

Zimbabwe

Masalah ketahanan pangan Zimbabwe menjadi akut seiring dengan meningkatnya kondisi iklim yang ekstrem dan pengelolaan ekonomi yang bermasalah. Akibatnya, sebanyak 6.6 juta penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sementara itu lebih dari sepertiga populasinya (5.7 juta) kekurangan makanan.

“Panen di banyak area rural tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar dan lainnya. Di wilayah ini, rumah tangga harus bergantung pada pasar lokal ketika pasokan makanan berkuran. Namun harganya terlalu mahal untuk banyak orang,” kata laporan tersebut.

Honduras

Kemiskinan dan kekerasan telah memperburuk situasi kemanusiaan di Honduras, sehingga memicu migrasi warga ke Amerika Serikat. Menurut sebuah studi pada 2020, sekitar 70% dari populasinya hidup dalam kemiskinan.   

Di sisi lain, pertanian di Honduras juga menghadapi masalah karena kekeringan, badai, dan banjir. Saat ini terdapat 937.000 penduduk yang kehilangan rumahnya, tertinggi di Amerika Latin. “Di Honduras, orang sering berbicara tentang kemiskinan sebagai perempuan, karena kebanyakan perempuan yang tinggal bersama anak-anak,” kata laporan itu.