Tahan Iklim, Tanaman Ini Diprediksi Jadi Makanan Masa Depan

Penulis : Kennial Laia

Perubahan Iklim

Rabu, 25 Mei 2022

Editor : Kennial Laia

BETAHITA.ID -  Perubahan iklim telah meningkatkan risiko dunia kehilangan pangan. Bencana iklim seperti kekeringan dan banjir menyebabkan gagal panen dan kenaikan harga bahan pokok di seluruh dunia. Kondisi ini membahayakan peradaban manusia dengan adanya ancaman kelaparan.  

Ilmuwan mengatakan diversifikasi makanan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kelaparan, mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati, dan membantu manusia beradaptasi dengan perubahan iklim.

“Kami tahu bahwa ada ribuan spesies tanaman yang dapat dimakan di seluruh dunia yang dikonsumsi oleh populasi yang berbeda. Di sinilah kami dapat menemukan beberapa solusi untuk tantangan global di masa depan,” kata Dr Sam Pirinon, peneliti di Kew, dikutip dari BBC.

Saat ini manusia hanya menggunakan sedikit dari sekian banyak spesies tanaman yang dapat dimakan. Dari lebih dari 7.000 tanaman yang dapat dimakan di seluruh dunia, hanya 417 yang ditanam secara luas dan digunakan untuk makanan. 

Enset atau 'pisang palsu' diklaim ilmuwan sebagai kandidat makanan di masa mendatang karena sifatnya yang tahan terhadap berbagai kondisi iklim. Meski buahnya yang menyerupai pisang tidak dapat dimakan, batang dan akarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat bubur dan roti. Foto: Promusa

Menurut catatan Royal Botanic Gardens di Kew, London, 90% kalori yang dikonsumsi manusia berasal dari 15 tanaman. Hal ini mendorong para ilmuwan untuk mencari tanaman sebagai bahan makanan yang tahan iklim di masa depan. 

Pandan

Pandan (Pandanus tectorius) merupakan pohon kecil yang tumbuh di daerah pesisir di Kepulauan Pasifik hingga Filipina. Daunnya digunakan untuk membumbui hidangan manis dan gurih di sebagian besar Asia Tenggara. Sedangkan buahnya menyerupai nanas dapat dimakan mentah atau dimasak.

Pohon pandan dapat bertahan dalam kondisi iklim ekstrem, termasuk kekeringan, angina kencang, dan semprotan garam. Para peneliti menyatakan bahwa tanaman ini bergizi dan lezat.

“Akan sangat bagus untuk mendiversifikasi portofolio makanan kita sesuai budaya, bergizi, dan dapat tumbuh dalam kondisi yang menantang di seluruh dunia,” kata Dr Marybel Soto Gomez, peneliti di Kew dikutip dari BBC.

Jika pandan dapat digunakan secara berkelanjutan, tanpa menghabiskan sumber daya bagi masyarakat lokal, manusia harus menanamnya lebih luas, ujar Gomez.

Kacang polong

Tanaman lain yang diprediksi menjadi menu makan di masa depan adalah kacang polong atau polong-polongan. Harganya murah, tinggi protein dan vitamin B, serta dapat beradaptasi dengan berbagai lingkungan, mulai dari pesisir hingga pegunungan.

Terdapat 20.000 spesies polong-polongan di seluruh dunia. Namun manusia baru menggunakannya dalam jumlah sedikit. Diperkirakan ada ratusan di alam liar yang belum diidentifikasi ilmuwan.

Salah satu yang dikonsumsi saat ini adalah kacang morama (Tylosema escultentum), yang merupakan makanan pokok di beberapa bagian Botswana, Namibia, dan Afrika Selatan. Masyarakat merebus kacang bersama jagung, atau menggilingnya untuk membuat bubur atau minuman seperti kakao.

Tidak semua kacang-kacangan dapat dimakan. Namun para ahli sedang mengeksplorasi sifat-sifat spesies yang berbeda, terutama kandungan makanan dan nutrisinya.

Sereal liar

Sereal berasal dari rumput dan memiliki keragaman yang sangat besar. Jumlah spesiesnya mencapai 10.000, sehingga dianggap menawarkan banyak potensi untuk makanan baru. Salah satunya adalah fonio (Digitaria exilis). Sereal bergizi ini dibudidayakan di Afrika. Masyarakat membudidayakan dan menggunakannya untuk membuat kuskus, bubur, dan minuman. Tanaman ini tahan terhadap kondisi kering.

Pisang palsu

Enset atau “pisang palsu” merupakan kerabat dekat pisang. Namun tanaman ini hanya dikonsumsi di satu bagian Etiopia. Buahnya menyerupai pisang dan tidak dapat dimakan. Namun, batang dan akarnya mengandung tepung yang dapat difermentasi dan digunakan untuk membuat bubur dan roti.

Studi menunjukkan tanaman mirip pisang ini memiliki potensi untuk memberi makan lebih dari 100 juta orang di dunia yang semakin panas akibat perubahan iklim.

 

BBC