Makanan Makin Berlimpah, Orangutan Kian Peduli Informasi Sosial

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Spesies

Minggu, 11 Februari 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Ketersediaan makanan dapat menjadi katalisator untuk transmisi budaya di antara orangutan, menurut hasil sebuah studi. Berdasarkan pengamatan selama 18 tahun terhadap orangutan liar di Kalimantan dan Sumatra, para peneliti mengidentifikasi adanya hubungan antara lingkungan ekologi satwa, ketersediaan sumber daya, dan perilaku pembelajaran sosial.

Sebuah tim yang terdiri dari dua lembaga, Max Planck dan Universitas Leipzig, meneliti bagaimana orangutan jantan belajar dari orangutan lainnya, dan menemukan bahwa individu yang tumbuh di habitat dengan makanan yang berlimpah memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk memperhatikan informasi sosial.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal iScience ini menunjukkan bagaimana ekologi hewan dapat mempengaruhi kesempatan mereka untuk belajar secara sosial, dan dengan demikian kemungkinan perilaku baru dapat menjadi inovasi dengan sifat budaya.

Penulis utama, Julia Mörchen, seorang mahasiswa doktoral di University of Leipzig, mengatakan, pihaknya telah menunjukkan bahwa lingkungan ekologi hewan dan ketersediaan sumber daya masing-masing memiliki efek langsung pada kesempatan belajar sosial individu, tetapi juga pada kecenderungan mereka untuk belajar sosial selama masa evolusi.

Orangutan tapanuli dalam ancaman

Tim dari Max Planck Institutes for Evolutionary Anthropology and of Animal Behavior dan University of Leipzig mempelajari orangutan jantan dewasa dari populasi liar di Kalimantan dan Sumatra.

"Karena sejarah hidup mereka yang unik, orangutan jantan dewasa memberikan wawasan yang unik mengenai pembelajaran sosial orangutan," kata Mörchen, 5 Februari 2024, dikutip dari situs resmi Max Planck Society.

Begitu jantan mencapai kemandirian, Mörchen melanjutkan, mereka meninggalkan habitat tempat mereka dibesarkan dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai pengembara yang menjelajahi hutan hujan.

"Ini berarti jantan seperti turis abadi, sehingga mereka harus terus mempelajari perilaku penting, seperti makanan apa yang aman dikonsumsi, dari penduduk lokal yang berpengalaman," kata Mörchen.

Mörchen menuturkan, untuk mempelajari keterampilan baru yang diperlukan, jantan pendatang mengamati orangutan yang tinggal di sana dalam perilaku yang dikenal sebagai "mengintip". Para peneliti mempelajari orangutan di Kalimantan dan Sumatra, mengumpulkan data tentang kejadian ketika jantan pendatang mengintip orangutan lokal.

Pada kedua populasi, imbuh Mörchen, para peneliti menemukan bahwa orangutan jantan menghabiskan lebih banyak waktu di dekat orangutan lain, dan lebih banyak mengintip mereka, ketika makanan lebih banyak tersedia di lingkungannya. Para penulis menganggap hal ini memberikan bukti bahwa lingkungan hewan dapat memodulasi pembelajaran sosial.

"Ketika makanan berlimpah, orangutan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi, sehingga ada lebih banyak kesempatan untuk belajar sosial," kata Mörchen.

Temuan ini semakin dalam ketika tim membandingkan orangutan jantan migran dari Sumatra dan Kalimantan untuk melihat perbedaan tingkat mengintip. Orangutan di Sumatra hidup di habitat dengan ketersediaan makanan yang tinggi, sementara populasi Kalimantan hidup dengan ketersediaan makanan yang rendah dan berfluktuasi.

Sehingga, kata Mörchen, tidak mengherankan bila orangutan jantan dari populasi Sumatra menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengintip dibandingkan dengan orangutan jantan dari Kalimantan. Namun, temuan ini tetap bertahan, bahkan setelah efek ketersediaan makanan diperhitungkan.

"Bukan hanya karena (orangutan) jantan sumatra memiliki lebih banyak makanan di sekitar mereka sehingga mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengintip," kata Mörchen.

Mörchen mengatakan, para peneliti menemukan bahwa orangutan jantan sumatra memiliki kecenderungan mengintip yang lebih tinggi secara keseluruhan dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Kalimantan. Namun penelitian ini tidak dapat menguraikan mekanisme yang mendorong perbedaan kecenderungan untuk memperhatikan informasi sosial.

Menurut Mörchen, hal itu bisa jadi hasil dari efek perkembangan, karena orangutan kalimantan dan sumatra tumbuh dalam kondisi ekologi yang berbeda, atau bisa juga akibat perbedaan genetik antara spesies yang telah terpisah sekitar 674 ribu tahun lalu, atau kombinasi keduanya.

"Penelitian kami memberikan gambaran sekilas tentang bagaimana ekologi dapat mempengaruhi transmisi budaya. Kami menunjukkan bahwa ketersediaan makanan memodulasi kesempatan belajar sosial dan dengan demikian seberapa besar kemungkinan perilaku baru menjadi budaya," kata Penulis senior Caroline Schuppli dari Max Planck Institute of Animal Behavior.

Penulis senior Anja Widdig dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology dan University of Leipzig menambahkan, menemukan efek ketersediaan makanan pada toleransi sosial dan mengintip spesies kera besar yang paling tidak bersosialisasi dan paling jauh kekerabatannya dengan manusia ini, menunjukkan asal muasal evolusi efek ekologi pada kecenderungan pembelajaran sosial pada garis keturunan hominid dan potensi kehadirannya di garis keturunan lain.