LIPUTAN KHUSUS:

5 Negara Asia Masih Genjot PLTU Batu Bara, Ancam Target Iklim


Penulis : Kennial Laia

Lima negara Asia berisiko mengancam tercapainya target iklim karena masih berinvestasi di pengembangan PLTU tenaga batu bara.

Energi

Rabu, 07 Juli 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Lima negara Asia, termasuk Indonesia, masih membiayai pengembangan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara sebesar 80% dari total rencana konstruksi global. Ini dapat mengancam target iklim Paris. 

Studi terbaru oleh wadah pemikir keuangan Climate Tracker, menemukan bahwa Cina, India, Indonesia, Jepang, dan Vietnam berencana membangun lebih dari 600 unit PLTU batu bara dengan kapasitas gabungan lebih dari 300GW. Proyek tersebut dijalankan wala negara-negara dunia mulai beralih ke energi terbarukan yang semakin terjangkau.

Langkah itu juga mengabaikan desakan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres agar semua PLTU batu bara dibatalkan. Menurut Guterres, meninggalkan batu bara di sektor kelistrikan adalah “langkah tunggal paling krusial” dalam mengatasi krisis iklim.

Catharina Hillenbrand Von Der Neyen, Head of Power & Utilities Climate Tracker, mengatakan bahwa lima negara itu "berenang melawan arus" dan mengabaikan solusi yang lebih murah energi terbarukan yang mendukung target iklim global. 

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga uap batu bara. Foto: Getty Images

“Investor harus menghindari proyek batu bara baru, yang banyak di antaranya cenderung menghasilkan keuntungan negatif sejak awal,” tegas Von Der Neyen dalam pernyataan tertulis, akhir Juni lalu.  

Studi tersebut memperingatkan bahwa 92% dari perencanaan batu bara di dunia tidak lagi ekonomis, meskipun dengan skema business as usual. Lebih dari $150 miliar juga dapat terbuang sia-sia.

Jika dunia memenuhi target iklim Paris, Climate Tracker memperkirakan pembangkit listrik batu bara yang beroperasi berisiko terdampak dan mengalami kerugian $220 miliar. Sementara itu studi itu juga mengungkap bahwa 80% dari PLTU batu bara yang beroperasi dapat digantikan dengan energi baru terbarukan dengan penghematan yang besar.

Pada 2024, energi terbarukan akan lebih murah ketimbang batu bara di berbagai belahan dunia, dan pada 2026, hampir 100% kapasitas batu bara global akan menjadi lebih mahal untuk dioperasikan ketimbang membangun dan mengoperasikan energi terbarukan.

Berbeda dengan negara-negara Asia, saat ini negara maju telah mengumumkan rencana penghentian batu bara (coal phase-out). Inggris, Prancis, dan Italia akan menyetop PLTU batu bara pada 2025, Kanada 2030, dan Jerman 2038.

Cina adalah investor terbesar batu bara di dunia, dengan rencana menambah 187 gigawatt terhadap kapasitas PTLU batu bara eksisting sebesar 1,100 gigawatt. Climate Tracker mengklaim, pembangkit tenaga solar dan tenaga angin telah dapat menghasilkan listrik lebih murah ketimbang 85% PLTU batu bara di negara itu, dan bahwa pada 2024 energi terbarukan akan mampu mengungguli semua pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Sementara itu di India, dengan kapasitas PLTU batu bara terbesar kedua, dan Indonesia, energi terbarukan juga disebut akan mengungguli batu bara pada 2024. Di Jepang dan Vietnam, batu bara tidak ekonomis dibandingkan dengan energi terbarukan pada 2022.