LIPUTAN KHUSUS:

8 Juta Lapangan Kerja Menunggu Jika Target Iklim Global Tercapai


Penulis : Kennial Laia

Jika tercapai, target iklim global dapat menambah jumlah lapangan pekerjaan sebanyak 8 juta.

Perubahan Iklim

Rabu, 28 Juli 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Penelitian terbaru mengungkap, jika tercapai, target iklim global dapat membuka sebanyak 8 juta lapangan pekerjaan di sektor energi bersih di seluruh dunia.

Dalam studi tersebut, peneliti membuat kumpulan data global tentang pekerjaan di bidang energi bersih di 50 negara termasuk negara utama penghasil bahan bakar fosil. Hasilnya, saat ini terdapat sekitar 18 juta individu bekerja di industri energi. Angka ini dapat naik ke 26 juta jika target iklim terpenuhi.

Hasil analisis yang dimuat di jurnal One Earth ini mengombinasikan faktor pekerjaan di seluruh dataset global (termasuk penghasil utama energi fosil dan negara non-OECD seperti Rusia, India, dan Tiongkok) dengan model asesmen terintegrasi, yang memadukan perkiraan iklim dan ekonomi untuk memprediksi dampak perubahan iklim.

Dengan skenario target suhu global di bawah 2C tingkat pra-industri, para peneliti menemukan bahwa pekerjaan disektor energi terbarukan mendominasi pada 2050, sebesar 84%. Sementara itu energi fosil hanya 11% dan 5% adalah pekerjaan di bidang nuklir. 

Para pemuda pegiat lingkungan Greenpeace menuntut perlindungan iklim di Berlin. Dok. Jan Zappner melalui Greenpeace International.

Pekerjaan di industri ekstraktif dan fosil (saat ini 80%) akan menurun tajam, namun kehilangan ini dapat digantikan dengan industri terbarukan seperti solar dan angin. 

Sementara itu, Tiongkok dan negara eksportir bahan bakar fosil seperti Kanada, Australia, dan Meksiko diperkirakan mengalami kerugian besar.

Menurut penelitinya, studi tersebut belum memasukkan kesenjangan kapasitas yang berpeluang besar muncul. Contohnya, orang-orang yang bekerja di sektor energi fosil tidak selalu memiliki kemampuan atau pengalaman untuk bekerja di bidang energi terbarukan.

Namun saat dunia ini sedang fokus pada bagaimana menciptakan masa depan yang lebih lestari. Untuk isu kesenjangan kemampuan tersebut akan menjadi topik penelitian berikutnya.