Dara, Bayi Orangutan Baru di TN Bukit Baka Bukit Raya

Penulis : Kennial Laia

Satwa

Selasa, 30 Juni 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Populasi orangutan Kalimantan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bertambah. Satu individu orangutan dilaporkan lahir dari induk bernama Desi (12 tahun) yang merupakan orangutan rehabilitan dan dilepasliarkan pada 26 November 2016 lalu.

Dari hasil monitoring, bayi orang utan yang dinamai Dara itu baru berusia beberapa hari pada 10 Juni 2020. Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno, Dara menjadi orangutan keempat yang lahir dari program pelepasliaran orangutan Borneo kelahiran keempat dari program pelepasliaran di TN Bukit Baka Bukit Raya.

Dua kelahiran yang termonitor oleh tim adalah induk rehabilitan Desi dan Shila berasal dari program pelepasliaran bekerjasama dengan mitra Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di wilayah TNBBBR Kalimantan Barat. Dua kelahiran lainnya berasal dari induk rehabilitan Ijum dan Aulin dari program pelepasliaran bekerjasama dengan mitra Yayasan Borneo Orangutan Survival (Yayasan BOS) di wilayah TNBBBR Kalimantan Tengah. 

“Kelahiran bayi orang utan di alam dari induk hasil pelepasliaran merupakan indikator penting dan bersejarah karena menjadi bukti keberhasilan program rehabilitasi, pelepasliaran dan terjaganya habitat mereka di hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya,” kata Wiratno, Senin, 29 Juni 2020.  

Dara dipangku induknya, Desi, di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Foto: KLHK

“Hal ini juga menunjukkan adanya kerjasama yang sinergis dengan mitra-mitra terkait dalam konservasi orangutan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” tambah Wiratno.

Wiratno mengatakan, keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi dalam kegiatan pelepasliaran hingga pemantauan satwa, diharapkan dapat meningkatkan kesadarannya untuk turut melestarikan orangutan dan habitatnya di kawasan taman nasional.  

“Kita menyadari bahwa upaya konservasi tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Kita perlu bergandengan dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga lain, masyarakat setempat, pelaku bisnis dan lembaga-lembaga masyarakat”, tambahnya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Eksploitasia mengatakan, orang utan merupakan spesies kunci yang penting dalam keseimbangan dan kesehatan ekosistem. Salah satunya adalah penyebar biji yang meregenerasi hutan.

Keberadaan orangutan yang berhasil berkembang biak juga menjadi indikator kondisi hutan yang masih baik, tidak hanya bagi orangutan tapi juga bagi satwa-satwa lainnya, kata Indra.  

“Kami semua menantikan kelahiran-kelahiran alami berikutnya dari orangutan rehabilitan yang dilepasliarkan di kawasan ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya pelepasliaran orangutan di TNBBBR”, kata Indra.

Kepala Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Agung Nugroho mengatakan, keberhasilan reproduksi orang utan Borneo di kawasan hutan tersebut dapat berulang. Hal tersebut mengingat puluhan orangutan yang telah dilepasliarkan di kawasan tersebut.

“Ini adalah awal dari terbentuknya generasi baru orangutan liar di dalam kawasan TNBBBR,” kata Agung.

Hingga saat ini, sebanyak 46 individu orang utan telah dilepasliarkan ke TN Bukit Baka Bukit Raya. Menurut Agung, jumlahnya akan terus bertambah seiring bertambahnya jumlah orangutan yang telah menyelesaikan masa rehabilitasi di pusat penyelamatan orangutan. 

“Kami sangat gembira karena pada akhirnya kami tidak hanya berhasil memberi kesempatan hidup kedua setelah sebelumnya dia dipelihara manusia, tetapi kami juga sangat bahagia bisa memberikannya kesempatan menjadi seorang ibu,” tuturnya.

“Ibu dari bayi orangutan liar yang bisa hidup bebas di habitat alaminya, di dalam taman nasional yang akan sangat mendukung kehidupannya dari sisi ekologi dan perlindungan kawasannya,” tambahnya.

TN Bukit Baka Bukit Raya, terutama di Wilayah Kalimantan Tengah sudah melepasliarkan 171 individu. KLHK pun optimis adanya kelahiran alami berikutnya. Bahkan diperkirakan ada sejumlah kelahiran yang belum teramati di luar yang saat ini telah tercatat, mengingat luasnya kawasan taman nasional tersebut.

”Kita semua para pelaku dan pendukung upaya pelestarian orangutan berharap agar generasi baru orangutan liar segera terbentuk dan pada akhirnya membantu kita menjaga kualitas hutan demi kebaikan kita bersama”, kata Agung.