Studi: Polusi Udara Membuat Masyarakat Lebih Cepat Mati 2 Tahun

Penulis : Kennial Laia

Lingkungan

Jumat, 31 Juli 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Polusi udara dapat memperpendek harapan hidup masyarakat di seluruh dunia. Usia masyarakat global yang setiap hari terekspos partikulat polusi rata-rata berkurang hampir dua tahun.

Data terbaru Air Quality Life Index (AQLI), yang mengonversi partikel polusi udara terhadap harapan hidup manusia, mengungkapkan bahwa partikel polusi berisiko besar bagi kesehatan manusia sebelum Covid-19. Tanpa kebijakan publik yang kuat dan berkelanjutan, masalah itu akan terus berlanjut hingga setelah Covid-19.

“Meski ancaman virus corona sangat serius dan patut mendapat perhatian semua pihak, namun jika polusi udara diatasi dengan serius dapat memungkinkan miliaran orang menjalani hidup lebih lama dan lebih sehat,” kata Profesor Michael Greenstone dari Institut Kebijakan Energi di University of Chicago (EPIC), Amerika Serikat melalui siaran pers, Kamis, 30 Juli 2020.

Greenstone, yang menciptakan AQLI bersama timnya di EPIC, mengatakan solusi buruknya polusi udara adalah kebijakan publik yang kuat.

Aktivis menggelar aksi teatrikal untuk memprotes memburuknya polusi udara Jakarta di depan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2019/Greenpeace Indonesia

“AQLI memberi tahu warga dan pembuat kebijakan bagaimana partikulat polusi bisa memengaruhi mereka beserta komunitas, dan dapat digunakan untuk mengukur manfaat dari kebijakan yang dibuat untuk mengurangi polusi,” katanya.

Hampir seperempat populasi dunia saat ini tinggal di empat negara di Asia Selatan yang masuk dalam wilayah paling tercemar di dunia, yakni Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Bangladesh merupakan negara paling tercemar di dunia. Kota-kota India, seperti Delhi dan Kolkata juga mengalami pencemaran terparah.

Usia penduduk di empat negara tersebut rata-rata berkurang hingga lima tahun setelah terpapar polusi yang kini mencapai 44 persen lebih tinggi daripada dua dekade sebelumnya.

Di Asia Tenggara, 89% dari 650 juta penduduk terekspos polusi udara setiap harinya, dengan partikulat polusi melebihi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Polusi itu berasal kendaraan, pembangkit listrik, dan industri serta kebakaran hutan dan lahan. Jakarta, Singapura, Ho Chi Minh, dan Bangkok dipastikan memikul beban terbesar.

“Namun, kabar baiknya adalah sekarang ada rekam jejak negara-negara yang memutuskan untuk mengambil tindakan dan berhasil menangani masalah pencemaran udara,” kata Greenstone.

Cina, sebagai contoh, telah mulai memerangi polusi udara pada 2013 dan berhasil mengurangi 40 persen partikulat polusi udaranya. Menurut Greenstone, jika konsisten, warga Cina memiliki harapan hidup sekitar dua tahun lebih lama dibandingkan dengan sebelum reformasi agresif mereka.

Amerika Serikat, Eropa dan Jepang juga telah mengalami keberhasilan dalam mengurangi polusi berkat kebijakan kuat yang datang dari seruan publik untuk perubahan. Namun negara tersebutu membutuhkan beberapa dekade untuk menyamai pengurangan polusi seperti Cina.

“Ketika negara-negara saat ini berusaha menyeimbangkan dua tujuan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan, pelajaran sejarah dari seluruh dunia menggarisbawahi bahwa kebijakan baik yang dibuat suatu negara dapat mengurangi masalah polusi udara dalam berbagai konteks politik,” kata Greenstone.

“AQLI memperjelas adanya keuntungan yang bisa didapat dalam kehidupan yang lebih lama dan lebih sehat,” pungkasnya.