Biden Pro-Investasi Berkelanjutan, Saatnya Bersihkan Sawit Kotor

Penulis : Betahita.id

Lingkungan

Kamis, 05 November 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Joe Biden, yang dianggap lebih pro lingkungan dibanding capres inkumben Donald Trump, saat ini memimpin perolehan suara dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. 

Calon Partai Demokrat, Biden, mengantongi 264 suara elektoral, sedangkan Trump memperoleh 214 suara elektoral. Biden perlu tambahan 6 suara untuk melenggang ke Gedung Putih.

Baca juga Jelang Pilpres AS, Trump Hapus Status Hutan dan Satwa Dilindungi

Tanda-tanda Biden akan menang disambut para penggiat lingkungan. Kebijakan Biden, jika menang, ditengarai akan menghambat impor komoditas energi berbasis fosil dan kelapa sawit yang tak ramah lingkungan. Dengan begitu, hambatan non-tarif dalam bidang perdagangan akan muncul, yakni hal-hal yang meliputi pemenuhan standar lingkungan.

Calon Presiden AS Joe Biden (joebiden.com)

Hal ini merupakan kabar gembira bagi gerakan melawan deforestasi yang banyak dilakukan oleh pengusaha perkebunan sawit. Penggiat lingkungan Timer Manurung dari Auriga Nusantara berharap angin perubahan yang sedang didorong Biden, yang pro-investasi berkelanjutan, menjadi momentum membersihkan sawit kotor dari industri sawit nasional.

"Sawit kotor selama ini terkesan menyandera sawit-sawit baik yang jumlahnya sebenarnya jauh lebih banyak. Sebagai misal, hitung-hitungan Auriga, sawit yang secara langsung mendeforestasi hanya sekitar 3 juta hektare, padahal total tutupan sawit nasional sekitar 16 juta hektare," katanya kepada Betahita.

Hal senada diungkapkan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, yang mengatakan pengusaha sawit di Indonesia perlu waspada seandainya Biden memenangi Pemilihan Presiden AS.

Ia mengatakan kebijakan Biden akan berfokus pada ekonomi ramah lingkungan. “Biden merupakan sosok antitesis Trump (Presiden AS Donald Trump) khususnya dalam kebijakan lingkungan hidup,” tutur Bhima saat dihubungi pada Kamis, 5 November 2020.

Bhima memperkirakan standar lingkungan untuk perdagangan energi global kelak bakal diperketat. Karena itu, ia meminta produsen sawit mempersiapkan kondisi ini. “Produsen sawit harus bersiap-siap,” ucap Bhima.

Meski demikian di sisi lain, Bhima mengatakan seandainya Biden menang, situasi ini akan menguntungkan Indonesia. Sebab, keran ekspor Indonesia akan pulih terutama dalam hal pengiriman komoditas ke AS. Ekspor bahan baku ke Cina pun akan membaik lantaran tensi perang dagang global mereda.

Adapun dalam hal stimulus, Biden dinilai lebih pro terhadap kelas menengah AS yang merupakan pasar besar produk garmen dan alas kaki dari Indonesia. “Berbeda dengan Trump yang pro terhadap keringanan pajak bagi kelas atas,” ucapnya.

Penggelontoran stimulus di AS yang lebih besar digadang-gadang mampu mempercepat pemulihan ekonomi global. Tak hanya itu, Biden juga dinilai menaruh perhatian terhadap penanganan Covid-19 yang lebih serius dengan pendekatan sains. Hal ini, tutur Bhima, menjadi kabar baik bagi masyarakat dunia agar pandemi bisa segera ditekan di AS.

Perhitungan suara terus bergerak sejak pemilihan digelar pada 3 November lalu. Tercatat hanya kurang dari lima negara bagian yang belum menyelesaikan perhitungannya hingga Kamis pagi.

TEMPO.CO | TERAS.ID