BRIN Ingatkan Dampak Wisata Alam Liar

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Lingkungan

Sabtu, 02 Desember 2023

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan mitigasi dampak ekologi kegiatan wisata alam liar di taman nasional, yang saat ini cenderung meningkat mengikuti trend global. Salah satu dampak negatif yang perlu diwaspadai adalah penyebaran penyakit.

“Kita perlu memitigasi dampak ekologi wisata alam pada habitat, hidupan liar, pola migrasi, dan penyebaran penyakit. Jika hal ini diabaikan, akan mengancam keberlanjutan wisata alam itu sendiri,” kata Profesor Riset Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, BRIN, dalam Workshop Pengelolaan Wisata Alam di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (27/11/2023).

Hendra menguraikan sejumlah hal dalam wisata alam yang perlu dicermati. Pertama memastikan wisatawan yang berkunjung tidak membawa penyakit yang dapat ditularkan dan aktivitas pengunjung tidak menyakiti, mengganggu, bahkan mengeksploitasi hidupan liar.

Kemudian yang kedua, mitigasi dampak pada pola migrasi dan rutinitas harian yang harus selaras dengan rute wisata. Ketiga, mitigasi penyebaran penyakit melalui penerapan protokol kesehatan dan kebersihan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Kalong (Pteropus vampyrus) salah satu satwa penghuni pantai TN Baluran. Foto: TN Baluran

Oleh karena itu, fungsi pendidikan dan kesadaran lingkungan baik oleh pengelola maupun para wisatawan terkait konservasi alam harus dipahami. Salah satunya dengan menerapkan batasan jumlah pengunjung.

"Selain itu perlu kolaborasi dengan komunitas lokal dalam pengelolaannya sehingga berdampak pada pengembangan wisata yang memberikan manfaat positif bagi masyarakat,” ujar Hendra.

Direktur Pengelolaan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nandang Prihadi, menyebut penting untuk memahami dampak wisata alam terhadap spesies dan ekosistem. Namun tetap memberi kepuasan pengunjung.

“Maka dari itu pentingnya edukasi pada pengunjung agar tumbuh kesadaran yang pada akhirnya turut berpartisipasi dalam upaya konservasi wildlife,” kata Nandang.

Kepala Balai Taman Nasional Baluran, KLHK Johan Setiawan menambahkan, secara ekosistem Taman Nasional Baluran dikenal dengan savananya, sehingga dijuluki Africa van Java atau Little Africa in Java.

“Potensi alam dan satwa liarnya yang unik dan menarik untuk dikunjungi sebagai obyek wisata selama ini cukup menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Beberapa spesies ikonik yang ingin mereka lihat secara langsung di habitatnya yaitu banteng, macan tutul, merak, rusa, lutung, monyet, dan masih banyak lagi,” ujar Johan.

Johan menuturkan, wisata alam taman nasional sangatlah bernilai karena dapat mendekatkan manusia dengan alam. Melalui wisata alam, para pengunjung dapat memahami mengapa alam penting bagi manusia, sehingga dapat mengubah pemikiran manusia.

Di Indonesia, kata Johan, wisata alam taman nasional memiliki arti yang sangat strategis seperti sebagai sumber pendanaan konservasi, sarana meningkatkan kesadaran masyarakat, pertumbuhan ekonomi lokal, diversifikasi pendapatan, manfaat pendidikan, mempromosikan potensi daerah, mendukung penelitian, dan mempengaruhi kebijakan konservasi.